Membuat Outline Sederhana

Ini adalah cara lain selain menggunakan peta pikiran. Atau bisa pula menggabung antara peta pikiran dan outline secara bersamaan. Peta pikiran tetap perlu dibuat untuk menggali ide sebebas-bebasnya dan seluas-luasnya. Outline dibutuhkan agar tulisan bisa runtut dan tidak menyeleweng kemana-mana. Saya sendiri biasanya menulis pertama-tama menggunakan peta pikiran, baru kemudian menggunakan outline.

Outline hampir sama dengan daftar isi sebuah buku. Semakin rinci outline-nya, semakin banyak yang akan dituliskan. Dari peta pikiran yang sudah kita buat sebelumnya, mari kita terapkan dalam bentuk outline seperti berikut ini:

Learning Organization

  • Pembuka

– Buta huruf di abad 21

– Ubah sikap

– Langkah maju

  • Isi
  • Masalah belajar jaman now
  • Mengapa masalah belajar terjadi
  • Komponen yang harus dipenuhi
  • Tantangan belajar era internet
  • Solusi
  • Mengubah paradigma
  • Pendekatan
  • Kompetisi pelajar
  • Medium informal dan formal
  • Pembelajaran berbasis online
  • Komunikasi atraktif dan komunikatif
  • Aplikasi belajar cerdas
  • Tantangan
  • Penutup

– Belajar itu tidak sulit

– Ringkasan

 

Jika outline sudah dibuat rapi, sebenarnya proses menulis kita sudah 30 % jadi. 30 persennya lagi adalah menyaring data dan proses menulis. Kemudian 40 % berikutnya adalah proses editing. Tulisan yang baik, kata pakar, memerlukan 40 % penelitian, 40 % editing dan hanya 20 % menulis.

Bagi penulis pemula, pembuatan outline sangat penting. Dengan outline, setidaknya dia bisa menulis secara sistematis dan tidak ngelantur. Jangan samakan dengan penulis profesional yang dengan mudah menulis tanpa panduan outline. Mereka sudah berkali-kali menulis dalam tema yang sama. Sehingga, seolah-olah outline-nya sudah lengkap di kepala.

Sekarang, apakah menulis artikel juga butuh outline? Saya kira butuh jika ingin membuat tulisan yang sistematis. Namun, jika ingin menulis secara mengalir, lebih baik menulis tanpa outline. Sebab, kadang di awal paragraf kita ingin menulis tentang ekonomi. Pas sampai bagian tengah, karena suatu hal, ada ide menulis kodok. Suatu hal itu bisa jadi berupa keterkaitan anekdot antara ekonomi dan kodok yang memang perlu disampaikan untuk memberi efek lucu misalnya.

Menulis seperti itu tidak mengapa saya kira. Apalagi penulis pemula di awal-awal belajar menulis. Jika harus memaksakan menulis mengikuti outline sering berdampak mandeg di tengah-tengah. Menulis belum selesai sudah kehabisan ide. So, bebas sajalah menulis.

A.S. Laksana sering menyampaikan pesan menulis bebas ini. Dia bahkan punya trik menulis hebat hanya bermodal tiga kata. Tiga kata ini sudah mewakili outline. Namun lebih sederhana. Misalnya, topik tulisan yang akan dibuat adalah tentang ‘membaca cepat’. Maka, mula-mula dia mencari tiga kata secara bebas yang bisa diarahkan pada topik tersebut.

Ambil contoh misalnya: berita, mata, jari. Tiga kata ini kemudian dirangkai menjadi ide menulis ‘bertopik membaca cepat’. Sepertinya, tiga kata ini tidak berkaitan sama sekali dengan topik. Tetapi, dengan imajinasi, seorang A.S. Laksana mampu merangkainya menjadi tulisan yang bagus. Tiga kata ini cukup mewakili outline satu tulisan utuh.

Jika saya yang menulis bermodal tiga kata tadi, mungkin akan begini jadinya:

“Pernahkah kamu membaca koran? Jika pernah maka saya pun juga pernah. Membaca koran adalah kegiatan yang hanya disukai oleh orang yang suka membaca dan respek terhadap kejadian sekitar. Tidak mungkin emak-emak yang setiap hari sibuk di pasar mau membaca koran.

Membaca koran adalah membaca berita. Informasi dalam koran banyak sekali. Maukah kita baca semuanya sampai tamat? Tidak mau. Kebanyakan orang membaca berita yang menarik saja. Atau yang dibutuhkan saja. Toh tidak wajib menamatkan bacaan koran.

Begitu juga dengan membaca cepat. Cara cepat membaca informasi adalah cara yang sama yang kita lakukan saat membaca berita di koran. Dengan sekedar membaca informasi yang benar-benar kita butuhkan, proses membaca akan berkali lipat lebih cepat dari biasanya.

Membaca cepat sangat dibutuhkan terutama saat kita dikejar dedline penulisan buku. Kita dituntut mencari informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber. Apabila kita lamban membaca, kita akan kehilangan banyak waktu yang sebenarnya bisa digunakan untuk kegiatan yang lain.

Kecepatan membaca memerlukan konsentrasi mata. Sama seperti ketika membaca berita di koran, cara terbaik menemukan informasi adalah menjelajah dengan mata. Mata harus cepat membaca judul-judul berita. Membaca paragraf awal lalu beralih ke judul yang lain. Dalam mencari referensi di buku juga sama prosesnya. Kita tak perlu membaca keseluruhan buku. Cukup baca daftar isi, indeks, atau apendiks.

Dalam buku berjudul “Fast Reading”, pelibatan jari dalam membaca kadang diperlukan. Terutama agar pandangan mata bisa bergerak lebih cepat mengikuti gerakan jari.

Dan seterusnya…. dan seterusnya…”

Perhatikan kata-kata bercetak tebal dari contoh tulisan yang saya buat tadi. Semuanya adalah bagian pembentuk imajinasi menulis yang coba saya lakukan. Kamu bisa mencobanya. Dengan kata-kata yang kamu kembangkan sendiri tentunya. Tiga kata cukup untuk outline sederhana.

Iklan

Editing Tulisan

Menulis tanpa editing ibarat bikin rumah dari batu bata saja. Tanpa dilapisi semen, kapur, keramik, dll. Bangunannya sudah berdiri namun tidak enak dipandang. Menulis tanpa editing sudah mencapai finish sebenarnya. Hanya saja, kurang berkualitas. Telah saya sebutkan sebelumnya bahwa tulisan yang baik melibatkan di antaranya 40 % proses editing.

Menulis lebih mudah daripada editing. Menulis bisa bebas. Tak perlu sistematika dan aturan baku. Namun, pada editing membutuhkan keterampilan khusus. Biasanya hanya dimiliki oleh penulis-penulis profesional. Karenanya, seringkali kita temukan banyak penulis hanya bekerja sebagai penulis saja. Proses editingnya dipasrahkan kepada editor.

Namun begitu, ilmu tentang mengedit perlu kita tahu. Tentu saja agar tulisan kita tidak ditolak penerbit atau pembaca. Banyak penerbit yang menolak secara kasar sebuah karya gara-gara proses editingnya kurang baik. Penerbit-penerbit terkenal biasanya akan menerima naskah tulisan yang sudah melalui tahap edit berkali-kali.

Dengan mengetahui ilmu editing, setidaknya tulisan kita sudah bisa diperbaiki sejak awal. Bagaimana penggunaan kalimat yang benar, penempatan tanda baca yang benar, pilihan kata yang tepat, penggunaan kata istilah dan serapan, serta pembentukan struktur kalimat yang baik, semuanya perlu kita pelajari. Sebab, kehebatan seorang penulis sering dilihat dari bagaimana dia menulis kalimat dengan benar.

Dalam proses editing, alangkah baiknya jika tulisan kita dibaca dulu secara utuh. Saya sarankan juga agar tulisan itu dibiarkan tergeletak sepanjang dua hari. Itulah yang disebut masa inkubasi. Dalam masa inkubasi itu, barangkali nanti kita punya ide lebih yang perlu ditambahkan. Atau barangkali ingat ide yang belum tersampaikan, maka kita bisa memasukkannya ketika sudah kembali pada tulisan.

Bisa juga kita berikan tulisan kita kepada teman untuk dibacakan lalu dimintai penilaian. Terutama teman yang juga punya sense menulis. Sebab, seringkali kita merasa tulisan kita sudah enak dibaca, padahal tidak menurut orang lain. Banyak kusalahan-kesalahan menulis yang tidak kelihatan kecuali saat dibaca oleh orang lain. Itulah pentingnya koreksi dari orang lain.

Proses editing seringkali saya abaikan. Tapi tak perlu kamu tiru. Maklum, sampai saat ini, belum ada buku saya yang terbit. Ini bukan berarti bahwa saya tidak butuh mengedit tulisan. Namun, sejak awal menulis saya sudah berhati-hati agar tidak terjadi banyak kesalahan serius yang memerlukan edit.

 

Menyiapkan Bahan Tulisan

Tema menarik sudah ada. Visi menulis juga sudah mantap. Sekarang waktunya menyiapkan bahan-bahan tulisan. Menyiapkan bahan merupakan rangkaian aktivitas menulis yang tidak boleh dipisahkan. Kecuali kita menulis asal-asalan. Yang ‘apa kata gue’. Tapi hati-hati, menulis asal tanpa fakta sering menimbulkan fitnah. Bisa jadi tulisan kita dianggap HOAX.

Maka, sebelum menimbulkan hoax, lebih baik kita menulis yang haq. Caranya, cari referensi sebanyak-banyaknya. Baik dari buku, kitab, ujaran seorang tokoh, pendapat teman, dan internet. Namun hati-hati jika mengambil informasi di internet. Harus kita pilih yang sesuai atau mendekati kebenaran prinsip yang kita pegang. Khawatir kita menulis topik namun berseberangan dengan prinsip agama yang kita pegang kokoh.

Mengumpulkan materi termasuk gampang-gampang susah. Bagi saya sendiri, mencari referensi sering sulit. Lantaran tidak punya akses internet, klasifikasi buku di perpustakaan kadang kurang memadai, dan yang sering adalah sulit memahami materi. Untuk yang terakhir ini tentu karena saya kurang begitu baik membaca dan memahami kitab.

Jika kamu mahir membaca dan memahami kitab alangkah bagusnya. Itu menjadi modal menulis super hebat. Sebab, kitab adalah sumber satu-satunya ilmu yang kredibel dan bisa dipertanggungjawabkan. Ada banyak penulis, namun tidak kaya pengetahuan kitab. Jadinya tulisan itu kering, hambar, tidak memiliki ruh. Padahal, ruh lah yang dibutuhkan dalam sebuah tulisan.

Tulisan tanpa ruh ibarat tubuh yang mati. Tidak bisa dimanfaatkan. Dalam kenyataan di lapangan, tulisan yang kering referensi kitab hanya mampu bertahan sebentar di kepala: sekali saja ditangkap idenya oleh pembaca, kemudian besoknya hilang. Tak ada efek perbaikan prilaku pada pembaca.

Tulisan yang bagus adalah tulisan yang bisa disimpan dalam long term memory, memori jangka panjang. Yang bisa terus diingat oleh pembaca dan terus mendorong aksi. Kan percuma jika menulis tentang perintah membaca al-Quran namun hanya sebatas informasi saja. Tidak justru membuat pembaca terdorong untuk membaca al-Quran. Biasanya, tulisan seperti itu dipengaruhi oleh ruh yang berupa referensi kitab.

Maka perlu memasukkan ruh dalam tulisan kita. Dari kitab, potongan ayat, hadits maupun dawuh ulama’. Referensi dari buku umum juga perlu. Yang banyak juga tidak apa-apa. Asalkan bisa dipertanggungjawabkan dan sudah kita sesuaikan dengan nilai-nilai kebaikan dalam kitab yang pernah kita baca.

Saya sering mengolaborasikan referensi kitab dan umum untuk menulis. Itu saya lakukan agar imbang. Sebab, ada saja kadang sebagian orang yang mengkritik sinis lantaran tulisan saya yang terlalu dipenuhi kitab. Mengatakan saya sok suci lah, sok alim lah, sok hebat baca kitab lah, dan sebagainya. Pada saat seperti itu, saya kadang tidak memasukkan sama sekali referensi kitab itu. Justru saya tulis seolah-olah itu perkataan dan pendapat saya pribadi.

Jaman sekarang, orang lebih menyukai kebatilan daripada kebenaran. Publik lebih suka membaca tulisan dengan referensi hasil penelitian, bukan hasil saduran dari pendapat orang lain. Termasuk kitab. Bikin penulis-penulis bergenre reliji harus banting setir ke genre tulisan filsafat. Ini persoalan serius yang harus diketahui oleh penulis-penulis dai muda jaman now.

Dengan mengetahui permasalahan menulis jaman sekarang, setidaknya kita bisa menentukan sikap: mau diformat bagaimana tulisan kita. Kalau menurut saya, jalan terbaik adalah mengambil makna dari sebuah referensi lalu saya tulis dengan bahasa saya sendiri. Kedengarannya, ini solusi yang kurang tepat. Sebab, bisa jadi, menulis seperti ini akan berefek kita dianggap plagiat.

Benar sekali! Menulis hasil tulisan orang lain tanpa menyebutkan sumber asli itu memang tindakan mencuri hak cipta. Itu plagiat. Namun, saya kira, jika sekedar mengambil idenya untuk ditulis ulang itu tidak mengapa. Asalkan bukan menjiplak secara persis kalimat-kalimat yang ditulis orang lain itu. Menulis dengan menyebutkan sumber asli menurut saya hanya sebagi penguat saja sekali-kali. Agar orang tidak ngoceh lagi dan mengira bahwa yang kita tulis itu tidak berdasar.

Tulisan-tulisan Gus Dur sangat minim sekali referensi. Namun, jika kita teliti, ternyata tulisan-tulisannya adalah hasil dari kajian mendalam suatu bidang ilmu. Hanya saja, mungkin, beliau sengaja tidak menampilkan referensi itu agar tidak dianggap sok ilmiah, sok hebat, sok kaya pengetahuan, dll.

Saya pun kadang meniru cara beliau menulis buku. Yang tanpa referensi, tanpa buku rujukan, bahkan tanpa menyebutkan data fakta. Bedanya saya dengan Gus Dur: Gus Dur sudah punya banyak referensi untuk dituliskan. Saya, hanya sekedar menulis lepas dan bebas. Murni hasil pikiran pribadi yang entah benar atau tidak. Yang jelas, buku yang sedang kamu baca ini saya tulis tanpa perlu mencari referensi kemana-mana. Saya hanya menuangkan isi pikiran saja.

Baiklah. Kamu sudah tahu bagaimana caranya menyiapkan bahan. Intinya, bahan itu bisa kamu dapatkan di mana-mana. Termasuk dari hasil perenungan sendiri di saat sedang santai di toilet. Jika bahan sudah melimpah, mari beranjak ke action berikutnya.

Menentukan Tema Tulisan

Setelah membaca tentang kiat-kiat menulis, saatnya sekarang take action: ambil pen dan buku. Jangan buru-buru menulis dulu. Tentukan dulu apa yang akan ditulis. Sekedar menulis kadang memang bagus: merangsang kreativitas secara spontan. Tetapi, jika kita ingin menulis untuk orang lain maka kita harus pintar-pintar menulis yang sesuai keinginan mereka.

Jangan-jangan kita menulis tentang kambing, padahal orang-orang butuh informasi tentang kadal. Publik butuh klarifikasi tentang seorang tokoh politik, tapi kita berikan tulisan tentang nyamuk. Itu namanya gak nyambung. Maka, seorang penulis perlu menentukan tema tulisan. Agar nyambung. Agar tulisan sesuai kebutuhan pembaca.

Terkecuali jika kita kita ingin menulis bebas dan untuk konsumsi pribadi. Maka silahkan saja menulis suka-suka kita. Misalnya, kita sedang lagi pengen menulis untuk mengisi kekosongan. Mau beraktivitas agak malas. Maka silahkan saja menulis apapun. Itung-itung mengasah kemampuan menulis biar lebih prigel.

Untuk menentukan tema, yang perlu diperhatikan oleh penulis adalah pasar. Maksudnya, di lingkungan kita sedang ramai membicarakan apa, maka itu yang kita tulis. Kita tulis dengan sudut pandang pribadi. Apa tanggapan kita menyoal kejadian yang terjadi di sekitar?

Selain pasar, kita juga perlu memikirkan visi dan misi kita menulis. Apakah kita ingin menulis karena tujuan dakwah, sekedar memberi informasi, mengoreksi kesalahan publik, memberikan wacana, menyampaikan ide, atau sekedar basa-basi? Visi dan misi menulis itu penting. Agar kita punya tanggung jawab atas tulisan yang kita buat.

Visi dakwah dalam menulis sangat saya sarankan jika kamu kaum santri. Sebab, tidak ada yang bisa kita sumbangkan kepada masyarakat selain ilmu. Dengan menulis suatu kebenaran, barangkali itu menjadi perantara seseorang mendapatkan hidayah. Jika benar, sungguh betapa banyak pahala yang akan kita terima. Sebab, kata Rasulullah, apabila satu orang mendapatkan hidayah sebab kita, kita akan kebagian juga pahalanya.

Menentukan pasar dan visi (tujuan) menulis merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Hanya saja, apabila bertentangan antara keduanya, sebaiknya kita ambil visi. Visi harus lebih kuat daripada pasar. Bisa jadi orang ingin tahu tentang isu presiden, tetapi visi menulis kita ingin memperbaiki akidah yang sesat. Maka yang harus kita dahulukan adalah memperbaiki akidah sesat.

Sangat bijak seumpama kita berbicara tentang isu presiden namun ditulis dengan sudut pandang akidah. Misalnya, soal isu presiden yang memperdaya ulama kita kemas dalam tulisan bertajuk tauhid kaum akar rumput menyikapi politik kepala negara. Alih-alih kita menulis menyesuaikan keinginan publik, padahal sebenarnya ingin menyampaikan keinginan kita sendiri memperbaiki publik.

Bersikap bijak seperti itu sulit. Pola penggiringan pikiran pembaca dari isu hangat ke visi dakwah kita sering menuai kritik dari pembaca. Maka kita harus hati-hati. Belajarlah menulis secara santun: tidak menvonis kesalahan orang lain namun mampu menyadarkan. Di antara cara agar tulisan kita santun adalah dengan bercerita. Cerita dipercaya mampu menasehati orang tanpa harus menggurui.

Saya sering tersinggung oleh tulisan Emha Ainun Najib. Bahasa tulisnya santun. Menasehati saya bukan dengan bahasa perintah dan larangan, melainkan dengan bahasa cerita. Misalnya, dia cerita bahwa dulu ada seseorang melakukan ini dan itu. Kemudian mati su’ul khotimah. Dengan membaca cerita itu, seolah-olah dia ingin agar saya tidak melakukan apa yang membuat orang itu mati su’ul khotimah.

Begitulah bahasa tulis yang bagus. Tema tulisan dan judul yang kita buat setidaknya tidak menyinggung siapapun. Buatlah sesopan mungkin. Sekalipun misalnya kita agak emosi menyikapi suatu isu nasional yang lagi tren. Menulis dengan sarkastis, gaya menonjok, sering mengkritik dan menyalahkan justru semakin tidak diminati pembaca. Maka pikirkanlah baik-baik sebelum menulis.

 

 

Menulis Seperti Ngobrol Santai

Menulis adalah saudaranya bicara. Jika kita bisa bicara berarti kita juga bisa menulis. Setiap hari kita bicara. Tak henti-hentinya. Ada saja bahan untuk dibicarakan setiap hari. Lalu, mengapa dalam menulis kadang sulitnya minta ampun?

Itu karena kita membayangkan bahwa menulis harus begini dan begitu. Ada banyak aturan yang harus diterapkan. Jika begitu, akan sullit sekali kita bisa menulis. Menulis itu mudah semudah bicara. Jika ingin bukti, cobalah rekam apa yang kamu bicarakan. Dengarkan hasil rekamannya, lalu tulis. Jadilah tulisan. Sesimpel itu.

Kita kesulitan menulis karena kita tidak biasa. Kita lebih sering ngobrol ngalor-ngidul. Bikin semua orang ketawa dan suka sama kita. Tetapi giliran suruh menulis malah tidak bisa. Persoalannya sebenarnya hanya ada pada pembiasaan. Biasakah kita menulis?

Orang yang biasa ngobrol pasti akan ada banyak topik untuk diobrolkan. Begitu juga, orang yang biasa menulis akan ada banyak topik untuk dituliskan. Memunculkan topik itu butuh kebiasaan. Orang yang sudah terbiasa ngobrol, hal seremeh apapun bisa jadi bahan obrolan yang unik. Orang yang biasa menulis, hal sepele bisa bernilai topik berat dan bagus untuk ditulis. Semuanya tergantung kebiasaan.

Tulisan yang bagus itu searti dengan obrolan yang bagus. Saya lebih suka tulisan yang bernada obrolan. Seolah-olah tulisan yang bernada obrolan itu mengajak pembaca agar ikut berkomunikasi dengan penulis. Ada keterlibatan emosional antara penulis dan pembaca.

Tulisan yang bernuansa obrolan ikut menggugah pembaca. Pembaca seolah diajak aktif memikirkan juga apa yang ditulis penulis. Tulisan seperti ini yang bagus. Sebab, tulisan seperti ini tidak hanya berposisi sebagai objek, melainkan melebur dengan subjek. Yaitu pembaca itu sendiri.

Dalam dunia tulis-menulis, bahasa tulis yang seperti obrolan itu disebut tulisan komunikatif. Ada banyak buku yang bergaya komunikatif. Selain buku karya Dahlan Iskan, saya mengenal buku-buku karya Ust. Yusuf Mansur. Buku beliau yang berjudul Dreams sangat komunikatif sekali. Membacanya seperti mendengarkan pidatonya. Bahasanya kocak. Lucu. Ditambah sisipan bahasa Betawi yang bikin pembacanya jadi ikut-ikutan ngomong dengan gaya Jakarte.

Ada ebook karya @TendiMurti yang bahasa tulisnya komunikatif. Renyah dibaca. Ebook itu tentang kiat menulis naskah dalam satu bulan. Saya punya. Kamu juga harus punya. Karena berisi tip-tip menulis apa saja dalam waktu relatif singkat.

Yang saya kagumi dari buku itu adalah gaya penyampaiannya yang gokil abiss. Membuat saya harus rela menyelesaikan bacaan hingga tamat. Padahal, isinya sederhana. Bobot tulisannya juga ringan-ringan saja. Namun membuat saya rela berlama-lama membacanya. Tulisannya asyik.

Nah, menurut saya, buku seperti itulah yang banyak disukai pembaca. Saya akan berlatih menulis dengan bagasa komunikatif seperti di buku itu. Tujuan saya pertama adalah menarget pembaca: bagaimana sekiranya pembaca menyukai tulisan saya. Pada gilirannya nanti, apabila tulisan sudah diminati, saya akan mengubah tampilan tulisan yang berbobot dan bernilai ilmu tinggi.

Jika sejak awal menulis dengan gaya tulis yang tinggi, maka sejak awal pula pembaca akan memberi kesan bahwa tulisan kita semuanya begitu. Tidak menarik. Semua tulisan yang kita tulis selanjutnya akan tampak berat dan sulit diterima mereka, meskipun sudah diperbaiki dan kita sudah berubah.

Karena itu, cobalah sekarang pasang strategi menulis berbasis pasar dulu: pikat mereka agar menyukai tulisan kita. Baru setelah itu kita sampaikan ide-ide kita. Sekalipun ide kita berat nantinya akan tetap diterima. Sebab, sedari awal pembaca sudah kadung mencap tulisan kita sebagi tulisan yang lezat dan enak dibaca.

Kita perlu belajar menulis komunikatif. Sejak hari ini. Ini penting sekali sebelum kita nantinya punya tulisan bercap jelek. Caranya adalah menulis bebas. Menulis bebas dalam arti menulis tanpa beban pikiran, tanpa aturan, tanpa editing. Mengalir saja. Sama seperti berbicara atau ngobrol.

Sering sekali kita dengan hebat bercerita kepada teman dekat. Sering pula kita curhat dengan segenap perasaan menggebu. Menyampaikannya membuat yang mendengar jadi larut dalam cerita atau curhat itu. Nah, dalam menulis juga begitu. Tulisan yang baik seperti kita mengobrol dengan pembaca. Maka setiap kali akan menulis, bayangkanlah seolah-olah kamu sedang curhat sama teman dekat kamu.

Kamu tahu buku diary Anne Frank? Coba cari di internet. Ada banyak informasi tentang buku diary itu di inetrnet. Buku itu diangkat dari tulisan harian Anne saat diisolasi  kamp Nazi. Sangat menghsrukan membacanya. Buku itu menjadi best seller. Menurut saya, di antara faktor kehebatan tulisan itu adalah karena tulisan itu ditulis secara komunikatif: bernada ngobrol dan curhat.

Baiklah, sekarang giliran kamu menulis komunikatif. Menulislah secara bebas. Tumpahkan perasaan dan pengalamanmu. Biarkan mengalir seperti sungai. Atau paling tidak seperti air mata saat kamu sedang menangis!

Menulis Gaya Personal

Menulis personal artinya menulis dengan kata ganti ‘saya’. Yang ditulis adalah isi pikiran sendiri, perasaan sendiri, pengalaman sendiri, bahkan tentang diri sendiri. Bahan-bahan tulisan berlimpah luas dalam pikiran dan hati. Tidak perlu mencari di alam bebas. Bahkan tidak perlu masuk perpustakaan.

Menulis dengan sudut pandang ‘saya’ jauh lebih mudah ketimbang menulis dengan sudut pandang orang lain. Kebanyakan orang mandeg menulis karena tidak tahu apa yang mau ditulis. Lantaran dia berusaha menulis sesuatu yang tidak atau kurang diketahuinya.

Berbeda dengan menulis pengalaman sendiri, semuanya jadi mudah. Tinggal mengingat pengalaman-pengalaman lama, lalu menulisnya dengan apa adanya. Tak perlu dibumbui kata-kata bombastis. Sebab, pengalaman kongkrit itu sudah lebih bombastis. Hanya kita sendiri yang mengalaminya.

Apabila kamu ingin cepat-cepat bisa menulis, saya sarankan jangan terlalu banyak membaca buku panduan menulis yang bejubel banyaknya. Take action sekarang juga. Eksplorasi pengalaman yang ada pada diri kamu sendiri, lalu tulislah. Itulah yang saya lakukan, seperti juga dilakukan banyak penulis lain.

Pengalaman kita banyak sekali. Setiap hari yang kita jalani adalah pengalaman. Sejak kita lahir hingga sekarang saat kita duduk diam membaca buku ini adalah pengalaman. Sayang sekali jika pengalaman-pengalaman setiap hari kita dibiarkan saja. Tanpa ditulis. Tanpa diingat.

Andai kita membiasakan diri menulis kejadian sehari-hari, tentu itu akan menjadi buku sejarah besar. Buku sejarah pribadi yang meskipun bagi kita kelihatan biasa-biasa namun sangat berarti bagi orang lain. Jangan sepelekan pengalaman kecil. Itu barangkali sangat berharga bagi orang lain.

Karenanya, miliki kebiasaan menulis diary setiap hari. Demi mengumpulkan pengalaman. Demi mendokumentasikan jejak hidup kita. Siapa tahu kelak cucu kita bisa membaca pikiran kita. Jika ada sejarah baik dalam hidup kita, mereka bisa meneladaninya. Dan itu akan menjadi tambahan pahala bagi kita. Pahala jariyah.

Saya sendiri suka menulis diary. Saya biasa menulis setiap hari di buku kecil dan buku besar. Saya telah banyak menghabiskan buku untuk ditulisi cerita-cerita remeh harian. Kadang diisi pikiran nakal. Kadang diisi pelajaran. Kadang opini. Semuanya ditulis demi satu tujuan: mengumpulkan kepingan-kepingan sejarah pribadi.

Kembali pada topik awal, tentang menulis secara personal. Menulis secara personal erat kaitannya dengan menulis pengalaman, menulis diary, menulis opini, dan apa saja tentang pribadi. Ada banyak buku yang meskipun serius tetapi justru menggunakan bahasa personal. Jadi, jangan salah menilai, menganggap menulis secara personal bertentangan dengan aturan baku menulis.

Saya sering membaca buku karya hernowo. Banyak sekali buku karyanya. Dan itu ditulis menggunakan bahasa personal. Bahkan, hampir semua bukunya dirangkai dari tulisan diary yang dia kumpulkan setiap hari di milis; sebuah situs website miliknya. Saya jadi membayangkan, andai saja tulisan diary saya dicetak, tentu saya juga punya karya seperti karyanya.

Ada buku berjudul Mengikat Makna, Bermain-main dengan Teks, Andai Buku Sepotong Pizza, dll. Buku-buku itu karya Hernowo yang ditulis menggunakan bahasa personal. Buku itu dibuat secara tidak sengaja. Sebab, dia hanya punya kebiasaan menulis suatu pikiran setiap hari. Kemudian dia kumpulkan hingga jadilah sebuah buku. Kamu pasti juga bisa kalau cuma begitu. Maka lakukanlah. Mulailah sejak sekarang.

Raditiya Dika juga tidak pernah serius menulis. Dia hanya punya kebiasaan menulis di blog. Setelah banyak yang suka dengan tulisannya di blog, barulah dia menulis serius. Kumpulan tulisannya di blog dibukukan dengan judul Kambing Jantan dan mendapatkan penghargaan Blog Award pada tahun 2003.

Nah, sekarang giliran kamu menulis. Menulis apa saja. Dengan bahasa personal. Tentang kehidupan sehari-hari, pikiran, opini, perasaan, grundelan, cerita lucu, kata-kata romantis, dan apa sajalah. Yang penting menulis dulu. Kelak, jika tulisan kamu sudah banyak, kamu bisa membukukannya. Tidak harus terbit luas. Yang penting, minimal, kamu punya karya. Siapa tahu ada yang suka lalu mencetaknya secara luas?

Saat ini, orang lebih tertarik membaca buku populer. Yang ditulis dengan bahasa personal, mengandung cerita, mengisahkan pengalaman, dan yang humoris. Orang sudah mulai beralih ke dunia guyon. Tulisan serius sering dicuekin orang. Karenaya banyak materi pelajaran yang sekarang dikemas dengan bahasa populer, menggunakan bahasa personal.

Di jepang lebih unik lagi: materi pelajaran dibuat komik, cerita pendek, dan puisi. Sungguh suatu kreativitas hebat sebenarnya, namun sulit diterapkan di Indonesia. Orang Indonesia sendiri malas belajar karena pengemasan materi oleh pemerintah dibikin jelimet. Saya membayangkan, andai materi pelajaran di Indonesia dikemas seperti di Jepang, akan banyaklah yang minat belajar. Tak ada kata absen masuk kelas seperti yang terjadi di sekolah-sekolah kampung.

Baiklah, di atas telah saya urai tentang menulis secara personal. Sekarang berlatihlah menulis secara personal. Toh sekalipun dipaksa menulis kajian berat, cobalah menulis secara personal. Masukkan unsur pengalaman pribadi, opini, perasaan dan sesuatu yang bersifat pribadi banget. Tak masalah. Yang penting, ide awal dan fakta harus tersampaikan dengan benar. Personalisasi tulisan hanya sebagai strategi agar tulisan enak dibaca dan tidak membosankan.

Sebagai latihan, cobalah ambil satu artikel di mana saja. Baca sampai tuntas, kemudian tulis ulang. Tulis menggunakan gaya tulis kamu sendiri. Tulis menggunakan kata ganti ‘saya’. Bumbui pemikiranmu, pengalamanmu, dan perasaanmu. Setelah jadi, bandingkan. Lebih bagus mana? Jika lebih jelek tulisan kamu, artinya kamu harus belajar sekali lagi atau dua kali lagi. Selamat mencoba!

Bumbu Humor Dalam Tulisan

Nasi tak perlu dibumbui. Tapi perlu dikasih lauk yang dibumbui. Lauk tanpa bumbu, meskipun berupa daging sapi yang dipanggang rasanya tetap akan hambar. Bisa-bisa muntah makan nasi dengan lauk yang tanpa garam, tanpa bumbu, tanpa micin, tanpa penikmat rasa dll.

Hidup tanpa humor rasanya hambar. Seolah hidup ini benar-benar bukan senda gurau. Padahal, dalam satu momen harus ada humor. Biar hidup tidak melulu serius. Biar tidak cepat tua. Biar kita tahu bahwa tertawa adalah salah satu bentuk syukur kita kepada Allah.

Rasulullah juga pernah bergurau. Kita sebagai umatnya tentu juga boleh bergurau. Karena gurau adalah bumbu hidup. Karena serius adalah penyakit yang menghilangkan rasa nikmat dalam hidup.

Dalam tulisan, humor juga perlu. Tulisan tanpa humor akan terasa kering. Sekering daun jati di musim kemarau. Namun tentu saja ada porsinya. Harus ditakar secara pas agar nikmat.

Tulisan yang kering humor akan membosankan pembacanya. Tulisan yang terlalu humoris akan dicap sebagai tulisan sampah: dianggap tulisan guyonan dan tidak benar-benar menulis. Efeknya, informasi yang disampaikan justru tidak bisa ditangkap atau memang dicuekin pembaca.

Bagaimana cara menulis dengan bumbu humor? Saya sendiri masih sulit untuk memberikan bumbu humor dalam tulisan. Pertama, karena saya tipe orang introvert: sulit berkomunikasi dengan orang lain, pemalu, dan malas diajak ngobrol. Kedua, saya cenderung berpikir sistematis. Kedua faktor inilah yang menghambat saya jadi humoris.

Karena itu, jika kamu ingin berkepribadian humoris, sebisa mungkin harus menghilangkan sifat introvert dari diri kamu. Caranya, luangkan waktu yang banyak dalam komunitas. Bergaullah dengan banyak orang. Berbicaralah dengan mereka secara bebas. Bergaul secara intens dengan banyak orang akan menghilangkan sifat introvert.

Dalam komunitas, kita akan menemukan banyak pengalaman lucu dari teman. Banyak pengalaman dari mereka yang memang benar-benar lucu yang tidak pernah terpikir oleh kita. Maka, dengan sering mendengarkan cerita mereka, kita akan kaya bahan humor. Cerita-cerita lucu itu bisa kita jadikan referensi menulis kita.

Untuk menjadi humoris secara personal tidak cukup hanya dengan mendengarkan cerita orang lain. Kita harus berusaha melucu sendiri. Minimal, kita bisa menertawakan diri sendiri. Misalnya, kekurangan kita kita lihat, lalu kita tertawakan. Dengan sering memperhatikan kekurangan, kita akan menemukan banyak hal untuk ditertawakan.

Selain berusaha sendiri, menjadi humoris bisa juga dihasilkan dari membaca tulisan-tulisan lucu. Tulisan semacam itu tersebar banyak di media sosial semacam facebook. Coba perhatikan bagaimana teman-teman kamu membuat status lucu di facebook. Bisa jadi, itulah bahan yang bisa kamu ambil sebagai tulisan humor kamu.

Saya sendiri, sering belajar menulis lucu dari buku. Ada banyak buku humor yang saya punya. Rata-rata karya Pidi Baiq dan Raditiya Dika. Tulisan mereka berdua jika kamu baca insyaallah akan menularkan gaya menulis yang lucu. Silahkan beli atau pinjam buku-buku karya mereka. Bacalah, kamu akan menemukan banyak sekali bahan lelucon di sana.

Buku agak serius namun ada unsur humornya bisa kamu baca dari karya-karya pak Dahlan Iskan, A.S. Laksana dan Emha Ainun Najib. Mereka piawai membumbui tulisan dengan humor. Membuat pembaca sesekali cekikan sendiri membacanya. Sehingga, meskipun kadang kajiannya berat tetapi tidak membosankan pembacanya.

Kamu boleh menirunya agar tulisan kamu diminati pembaca. Seandainya tidak diminati, minimal tulisan kamu jadi catatan lucu untuk kamu bisa tertawakan kelak ketika kamu sudah tua, di saat kamu duduk santai bersama istri sambil makan pisang goreng yang dipotong kecil-kecil, karena sudah tidak punya gigi lagi.